Senin, 25 April 2011

Seedorf: Scudetto Dulu, Baru Pikirkan Kontrak

Clarence Seedorf lebih mengedepankan kepentingan bersama diatas nasibnya sendiri. Dia baru akan memikirkan masa depannya setelah AC Milan dipastikan merebut Scudetto musim ini.

Hingga saat ini, tidak ada kejelasan mengenai nasibnya di San Siro. Belum ada sodoran kontrak baru kepadanya yang berarti akhir musim nanti dia akan menyandang status bebas transfer.
Apabila melirik ke usianya yang telah mencapai 35 tahun, cukup masuk akal I Rossoneri ragu untuk memberinya kontrak baru. Namun, jika melihat kontribusinya untuk Milan musim ini, dia layak untuk dipertahankan.
Akan tetapi, Seedorf sepertinya tidak ingin dipusingkan dengan statusnya yang semakin tidak jelas bersama Milan. Saat ini, yang ada dibenaknya hanya membantu Si Merah Hitam mengamankan scudetto musim ini.
"Ketika scudetto sudah diamankan, baru lebih tepat untuk memikirkan tentang masa depan," ucap pemain asal Belanda itu.
"Kami harus mempertahankan konsentrasi di level seperti sekarang dan dapat mengamankan gelar secepat mungkin karena ada dalam jangkauan kami."
Milan dapat langsung memenangi gelar Serie A akhir pekan ini apabila sanggup mengalahkan Bologna dan Inter Milan kehilangan tiga poin dari Cesena.

Cordoba: Rasanya Sulit Mengejar AC Milan

Pernyataan bernada pesimis dilontarkan oleh bek tengah Inter Milan, Ivan Cordoba, terkait peluang timnya untuk bisa mengejar perolehan poin dari AC Milan dan mempertahankan Scudetto.

Hingga Serie A tinggal menyisakan empat pertandingan lagi, Inter Milan masih bertengger di tempat kedua dengan torehan 66 poin, memiliki selisih delapan angka dengan pemuncak klasemen sementara, AC Milan.
"Rasanya akan sangat sulit untuk mengejar AC Milan guna mendapat Scudetto. Tapi, kami harus bisa menang di semua laga yang tersisa. Kami harus bisa fokus kepada target yang kami canangkan, yakni posisi Liga Champion dan Coppa Italia yang juga cukup penting," ungkap Cordoba pada la Repubblica, Senin (25/4), menyinggung peluang timnya untuk bisa menggeser I Rossoneri dari puncak klasemen dan mempertahankan Scudetto.
Selain itu, bek tengah berusia 34 tahun itu juga mengungkapkan soal proses pemulihan cedera yang tengah dijalaninya. Pemain asal Kolombia itu mesti absen dari skuad La Beneamata lantaran mengalami masalah dengan lutut kirinya.
"Saya akan kembali bermain setidaknya pada dua atau tiga bulan lagi. Saya harus sedikit bersabar untuk bisa bisa benar-benar pulih. Masalah cedera ini ternyata cukup parah dan saya memutuskan untuk melakukan operasi," tandas pemain yang bergabung bersama I Nerrazurri sejak 1999 tersebut.

Allegri: Ibra Pandai Beradaptasi

Pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri berusaha mementahkan rumor yang meragukan kemampuan Zlatan Ibrahimovic untuk menjalin kekompakan dengan rekan setimnya di lini depan Rossoneri.
Meski mencetak 14 gol di Serie A musim ini, banyak pihak merasa sangsi bahwa penyerang raksasa asal Swedia itu bisa bekerja sama secara efektif dengan tandemnya, terutama Alexandre Pato.
Namun Allegri dengan tegas membantah hal tersebut.
"Ibra amat bagus dalam menyesuiqkan diri dengan karakter tandemnya di lini depan," katanya.
"Ia bermain dengan cara tertentu ketika Pato berada di lapangan, dengan cara lain ketika bersanding Robinho dan dengan cara lain lagi ketika bermain bersama Antonio Cassano."
Ibra saat ini harus menjalani sanksi tiga kali bermain dan baru akan bisa turun di giornata 36 ketika Milan menyambangi kandang AS Roma, namun Allegri merasa hal itu punya hikmah tersendiri.
"Ibrahimovic tak bermain belakangan ini karena menjalani sanksi, tetapi setidaknya ia punya peluang untuk memulihkan diri dari kelelahan," pungkas Allegri

Christian Abbiati

Christian Abbiati
Nama Lengkap : Christian Abbiati
Tempat Lahir : Abbiategrasso, Italia
Tanggal Lahir : 8 Juli 1977
Kebangsaan : Italia
Posisi : Kiper
Bermain di Klub : AC Milan


Christian Abbiati lahir pada tanggal 8 Juli 1977 di Abbiategrasso, Milan, Italia. Pemain berkebangsaan Italia ini bermain di posisi kiper.
Abbiati memulai karir sepak bolanya di usia 13 tahun bersama Trezzano dan Assago. Kemudian dia pindah ke Corsico dan akhirnya pada tahun 1996 dia dibeli oleh Monza. Dia kemudian dibeli oleh AC Milan di transfer musim panas 1998. Debutnya bersama AC Milan di Serie A, terjadi pada tanggal 17 Januari 1999 di menit ke 92 sebagai pengganti Sebastiano Rossi. Setelah itu dia menjadi kiper utama Milan selama 4 tahun, sebelum akhirnya tergeser oleh Dida pada awal musim 2002-2003.
Pada awal musim 2005-2006, Abbiati dipinjamkan ke Genoa. Tetapi langsung kembali ke Milan setelah Genoa terdegradasi ke Serie C1 karena skandal pengaturan skor pertandingan. Dia kemudian dipinjamkan ke Juventus untuk menjadi pengganti sementara dari kiper Gianluigi Buffon, yang cedera saat bertanding di Luigi Berlusconi Trophy melawan Milan pada bulan Agustus 2005. Harapan terus menjadi pemain inti akhirnya pudar setelah Buffon pulih 6 bulan kemudian.
Pada bulan Juli 2006, Abbiati dipinjamkan lagi ke Torino F.C. Meski ingin bertahan di Torino untuk musim berikutnya, tetapi Torino gagal merekrutnya karena masalah gaji. Dia dipinjamkan lagi, kali ini ke Atletico Madrid sampai bulan Juni 2008. Meski ingin bertahan, pada musim 2008-2009, dia kembali ke Milan dan mengambil posisi kiper utama dari Zeljko Kalac.
Abbiati mendapat panggilan pertama di tim nasional Italia sebagai kiper ketiga di ajang Piala Eropa 2000. Tetapi debut pertamanya baru terjadi saat melawan Swiss pada tanggal 30 April 2003.
Christian Abbiati
Nama Lengkap : Christian Abbiati
Tempat Lahir : Abbiategrasso, Italia
Tanggal Lahir : 8 Juli 1977
Kebangsaan : Italia
Posisi : Kiper
Bermain di Klub : AC Milan
Christian Abbiati lahir pada tanggal 8 Juli 1977 di Abbiategrasso, Milan, Italia. Pemain berkebangsaan Italia ini bermain di posisi kiper.
Abbiati memulai karir sepak bolanya di usia 13 tahun bersama Trezzano dan Assago. Kemudian dia pindah ke Corsico dan akhirnya pada tahun 1996 dia dibeli oleh Monza. Dia kemudian dibeli oleh AC Milan di transfer musim panas 1998. Debutnya bersama AC Milan di Serie A, terjadi pada tanggal 17 Januari 1999 di menit ke 92 sebagai pengganti Sebastiano Rossi. Setelah itu dia menjadi kiper utama Milan selama 4 tahun, sebelum akhirnya tergeser oleh Dida pada awal musim 2002-2003.
Pada awal musim 2005-2006, Abbiati dipinjamkan ke Genoa. Tetapi langsung kembali ke Milan setelah Genoa terdegradasi ke Serie C1 karena skandal pengaturan skor pertandingan. Dia kemudian dipinjamkan ke Juventus untuk menjadi pengganti sementara dari kiper Gianluigi Buffon, yang cedera saat bertanding di Luigi Berlusconi Trophy melawan Milan pada bulan Agustus 2005. Harapan terus menjadi pemain inti akhirnya pudar setelah Buffon pulih 6 bulan kemudian.
Pada bulan Juli 2006, Abbiati dipinjamkan lagi ke Torino F.C. Meski ingin bertahan di Torino untuk musim berikutnya, tetapi Torino gagal merekrutnya karena masalah gaji. Dia dipinjamkan lagi, kali ini ke Atletico Madrid sampai bulan Juni 2008. Meski ingin bertahan, pada musim 2008-2009, dia kembali ke Milan dan mengambil posisi kiper utama dari Zeljko Kalac.
Abbiati mendapat panggilan pertama di tim nasional Italia sebagai kiper ketiga di ajang Piala Eropa 2000. Tetapi debut pertamanya baru terjadi saat melawan Swiss pada tanggal 30 April 2003.

Allegri: Milan Butuh Empat Poin Untuk Scudetto


Massimiliano Allegri meminta skuadnya untuk tetap fokus, sehingga harapan AC Milan untuk meraih scudetto musim ini tidak melayang, Allegri menyebut kini Milan hanya membutuhkan empat poin lagi agar scudetto dalam genggaman.

Kemenangan atas Brescia membuat jarak dengan para pesaing terdekat Milan semakin melebar, kini Milan kokoh di puncak klasemen dengan selisih delapan poin dengan peringkat kedua Internazionale.

"Itu selisih poin yang lebar. Empat poin lagi kami akan memastikan scudetto," mantap Allegri.

Meski begitu Allegri tetap meminta anak asuhannya untuk fokus dan menjalani pertandingan yang tersisa dengan penuh konsentrasi.

"Sekarang kami harus fokus dengan menjalani libur Paskah setelah itu kami baru memikirkan laga melawan Bologna. Pertandingan lain yang sulit karena mereka ingin bangkit dari zona degradasi."

Allegri pun tetap yakin gelar juara bakal direbut oleh Milan, meski di akhir musim nanti, Milan, Inter dan juga Napoli memiliki poin yang sama. Hal ini karena rekor pertemuan dengan Inter dan Napoli Rossoneri masih unggul.

Meski begitu, Allegri tak ingin memikirkan pertandingan dan juga klasemen liga, Allegri dan anak asuhannya hanya ingin menikmati liburan di hari Paskah ini.

"Kami tidak merencanakan perayaan gelar apapun. Sekarang kami bersantai menghadapi libur Paskah," sambungnya.

Mengenai pertandingan yang baru saja dijalani oleh Allegri, dirinya menyebut faktor kelelahan membuat Inter tidak bermain maksimal meski menuai kemenangan.

"Kami sempat dua tiga kali kewalahan digempur Brascia. Di satu sisi, kami gagal memanfaatkan dominasi di babak pertama."

"Wajar saja, karena tim kami mengalami kelelahan karena baru saja bermain di semi-final Coppa, tetapi mereka mampu tampil baik."

Allegri tak lupa memuji Christian Abbiati yang dinilainya bermain dengan sangat baik sehingga pertahanan Milan lebih kokoh dlam menghadapi gempuran Brescia.

"Lini pertahanan kami bermain solid dan saya harus memuji penampilan Christian Abbiati yang melakukan penyelamatan gemilang di beberapa pertandingan terakhir," puji Allegri

Milanisti Indonesia



Robinho Lambungkan Milan


Brescia - AC Milan kembali membuka jarak dengan para penguntitnya usai mengalahkan Brescia 1-0. Gol tunggal Rossoneri diciptakan oleh Robinho di fase-fase akhir pertandingan.
Bermain di kandang Brescia, Stadion Mario Rigamonti, Minggu (24/4/2011) dinihari WIB, Milan harus menunggu hingga menit 82 untuk melihat gol kemenangannya tercipta.
Tiga angka yang direbut dari Brescia membuat Milan mengoleksi 74 angka dari 34 pertandingan, unggul delapan angka dari Inter Milan yang menguntit dari posisi kedua serta sembilan angka di atas Napoli.
Dengan selisih angka seperti itu, maka Milan bisa memastikan gelar juara Seri A pada pekan ke-36 dengan asumsi pada pekan ke-35 dan 36 Milan dan Inter sama-sama menang.
Jalannya pertandingan
Pertandingan baru berlangsung tiga menit ketika Milan sudah sangat dekat dengan gol pembuka. Sepakan Mathieu Flamini dari dalam kotak penalti membentur tiang gawang Brescia.
Lima menit kemudian, Milan kembali mengancam gawang Brescia lewat tendangan jarak jauh Clarence Seedorf. Tapi kiper Brescia, Michele Arcari, sigap menepisnya keluar.
Saat babak pertama tinggal berusia empat menit, Milan kembali memperoleh peluang. Kali ini, umpan silang Kevin Prince Boateng ditanduk Antonio Cassano, tapi bola melayang di atas mistar Brescia.
Di babak kedua, Milan sudah tidak lagi dominan seperti sebelumnya. Tetapi, mereka tetap berbahaya, seperti ketika sepakan Robinho memaksa Arcari menepisnya jadi sepak pojok.
Tendangan spekulasi yang dilepas Davide Baiocco di menit 76 memperlihatkan Brescia bukannya tanpa semangat ingin menang. Tetapi sepakan jarak jauh Baiocco itu masih tinggi di atas mistar.
Pada menit 81, Brescia tinggal berjarak beberapa inci dari gol. Kali ini, tendangan Alessandro Diamanti berbelok arah kena badan Urby Emmanuelson dan menabrak mistar gawang Milan serta berbuah korner.
Semenit kemudian, Milan mencetak gol tunggal dalam laga ini. Cassano melepas umpan terobosan kepada Robinho dan dengan sekali tendang Robinho menaklukkan Arcari yang menerjang maju. Brescia 0, Milan 1.
Di menit 88, Brescia nyaris menggagalkan kemenangan Milan saat Diamanti melepas tendangan ke arah pojok bawah gawang Milan. Namun kiper Milan Christian Abbiati menjatuhkan diri dan menepisnya.
Skor 0-1 buat keunggulan Milan bertahan hingga wasit meniup peluit panjang tandan berakhirnya pertandingan.
Susunan pemain
Brescia: Arcari; Zambelli, Zebina, Bega; Berardi, Vass (Baiocco 53), Zanetti (Filippini 71), Hetemaj; Diamanti; Eder, Carracciolo (Jonathas 73)
Milan: Abbiati; Abate, Thiago Silva, Yepes, Zambrotta; Flamini, Van Bommel, Seedorf; Boateng (Emanuelson 70); Cassano (Ambrosini 84), Robinho

Derby Della Madonina

Transfer Januari Jadi Kunci Kesuksesan Milan

AC Milan berpeluang besar meraih scudetto musim ini setelah terus memuncaki klasemen Seri A. Menurut Adriano Galliani, salah satu kunci kesuksesan Rossoneri adalah strategi transfer musim dingin.

Milan saat ini masih menguasai capolista dan unggul delapan angka atas Inter Milan yang menghuni peringkat kedua. Dengan empat laga tersisa, rasanya sulit untuk menghentikan langkah Il Diavolo Rosso merebut scudetto ke-18 mereka.
Galliani yakin timnya berada di posisi seperti saat ini karena kejelian mereka di bursa transfer Januari lalu. Saat itu, mereka mendatangkan Mark van Bommel dari Bayern Munich, Antonio Cassano dari Sampdoria, dan Urby Emanuelson dari Ajax.
"Kalau kami tak membuat transfer itu pada bulan Januari, kami tak akan unggul delapan poin dengan empat laga tersisa," ungkap wakil presiden Milan itu, sebagaimana dilansir Football-Italia.
"Kesuksesan Milan berada di puncak karena pemain-pemain hebat yang kami miliki dan tambahan pemain bintang di bulan Agustus, dan kemudian tetap di puncak karena strategi transfer Januari," sambung Galliani.
"Kami punya skuad yang sangat kompetitif dengan kekuatan nyata yang mendalam dan sekarang mencapai 31 pemain. Tanpa para pemain baru, kami tak akan berada di posisi ini," pungkasnya.

Hymne Milan


AC Milan juga mempunyai himne yang biasa dinyanyikan pendukungnya saat Milan bertanding, berjudul "Inno Milan!",diciptakan oleh Tony Renis, pembuat lagu asal Italia. Lirik lagu itu adalah:

Milan milan solo con te
Milan milan sempre per te
Camminiamo noi accanto ai nostri eroi
Sopra un campo verde sotto un cielo blu
Conquistate voi una stella in piã
A brillar per noi
E insieme cantiamo
Milan milan solo con te
Milan milan sempre per te
Oh... Una grande squadra
Sempre in festa olã¨
Oh...
E insieme cantiamo
Milan milan solo con te
Milan milan sempre per te
Con il milan nel cuore
Nel profondo dell'anima
Un vero amico sei
E insieme cantiamo
Milan milan solo con te
Milan milan sempre con te
Oh...

Milan milan hanya dengan Anda
Milan milan selalu untuk Anda
Kami berjalan di samping pahlawan kita
Di lapangan hijau, di bawah langit biru
Anda memenangkan bintang utama
Bersinar untuk kita
Dan bersama-sama kami menyanyi
Milan milan hanya dengan Anda
Milan milan selalu untuk Anda
Oh... Sebuah tim besar
Juga dalam perayaan
Oh...
Dan bersama-sama kami menyanyi
Milan milan hanya dengan Anda
Milan milan selalu untuk Anda
Dengan AC Milan di hati
Di kedalaman jiwa
Seorang sahabat sejati Anda
Dan bersama-sama kami menyanyi
Milan milan hanya dengan Anda
Milan milan selalu bersama Anda
Oh...

Total Kejuaraan

Bila dihitung berdasarkan total banyaknya gelar, maka Milan adalah salah satu klub tersukses di Italia, dengan total raihan gelar juara lebih dari 29 tropi dan menjadi terbanyak kedua setelah Juventus (40 tropi domestik)[38]. Milan juga menjadi salah satu klub tersukses di dunia bersama Boca Juniors[39], dengan rekor 14 trofi Eropa dan 4 trofi dunia. Milan juga mengenakan bintang tanda bahwa mereka memenangi lebih dari 10 gelar Seri A. Ditambah lagi, Milan juga memakai Lambang Penghargaan UEFA di seragam mereka karena memenangi lebih dari lima gelar Liga Champions.[40]


Kejuaraan Nasional
Perayaan scudetto Milan musim 2003/2004
* small shield with the italian flag Seri A:
* Juara (17): 1901; 1906; 1907; 1950-51; 1954-55; 1956-57; 1958-59; 1961-62; 1967-68; 1978-79; 1987-88; 1991-92; 1992-93; 1993-94; 1995-96; 1998-99; 2003-2004
* Runner-up (14): 1902; 1947-48; 1949-50; 1951-52, 1955-56, 1960-61; 1964-65; 1968-69; 1970-71; 1971-72; 1972-1973; 1989-90; 1990-91; 2004-05

* Seri B:
* Juara (2): 1980–81; 1982–83

* Badge of the Coppa Italia Copa Italia:
* Juara (5): 1966–67; 1971–72; 1972–73; 1976–77; 2002-03
* Runner-up (7): 1941–42; 1967–68; 1970–71; 1974–75; 1984–85; 1989-90; 1997-98

* Piala Super Coppa Italia Piala Super Italia:
* Juara (5): 1988; 1992; 1993; 1994; 2004
* Runner-up (3): 1996; 1999; 2003

Kejuaraan Eropa
Euforia kemenangan AC Milan di Liga Champions 2007

* Coppacampioni.png Piala/Liga Champions:
* Juara (7): 1962-63; 1968-69; 1988-89; 1989-90; 1993-94; 2002-03; 2006-07
* Runner-up (4): 1957-58; 1992-93; 1994-95; 2004-05

* Supercoppaeuropea.png Piala Super Eropa:
* Juara (5): 1989; 1990; 1994; 2003; 2007
* Runner-up (2): 1973; 1993

* Trofeo Coppa delle Coppe Piala Winners:
* Juara (2): 1967–68; 1972–73
* Runner-up (1): 1973–74

Kejuaraan Dunia

* FIFA Club World Cup Piala Interkontinental / Piala Dunia Antarklub FIFA:
* Juara (4):1969; 1989; 1990; 2007
* Runner-up (4): 1963; 1993; 1994; 2003

Kejuaraan lainnya

* Piala Latin (Piala yang paling penting bagi klub-klub Eropa pada tahun 40-an dan 50-an. Diselenggarakan sejak 1949 hingga 1957 antara juara-juara Perancis, Italia, Portugal dan Spanyol. Kejuaraan ini menghilang setelah dimulainya Piala Champions.):
* Juara (3): 1951; 1956
* Runner-up (1): 1953

* Piala Mitropa:
* Juara (1): 1981-82

* Piala Kejuaraan Dubai
* Juara (1): 2009

* Trofeo Santiago Bernabéu
* Juara (2): 1988, 1990
* Runner-up (1): 1999

* Trofeo Luigi Berlusconi
* Juara (11): 1992, 1993, 1994, 1996, 1997, 2002, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009

Sejarah AC Milan


Associazione Calcio Milan Italia (dipanggil A.C. Milan atau Milan saja) adalah sebuah klub sepak bola Italia yang berbasis di Milan. Mereka bermain dengan seragam bergaris merah-hitam dan celana putih (kadang-kadang hitam), sehingga dijuluki rossoneri ("merah-hitam"). Milan adalah tim tersukses kedua dalam sejarah persepak bolaan Italia, menjuarai Seri A 17 kali dan Piala Italia lima kali.
Klub ini didirikan pada tahun 1899 dengan nama Klub Kriket dan Sepak bola Milan (Milan Cricket and Football Club) oleh Alfred Edwards, seorang ekspatriat Inggris. Sebagai penghormatan terhadap asal-usulnya, Milan tetap menggunakan ejaan bahasa Inggris nama kotanya (Milan) daripada menggunakan ejaan bahasa Italia Milano.

Sejarah (1899 hingga kini)
Awal masa terbentuk
“Saremo una squadra di diavoli. I nostri colori saranno il rosso come il fuoco e il nero come la paura che incuteremo agli avversari!”
—Herbert Kilpin

Klub ini didirikan oleh dua orang ekspatriat Inggris , yaitu Herbert Kilpin dan Alfred Edwards dengan nama Klub Kriket dan Sepakbola Milan pada tahun 16 Desember 1899. Pada saat itu, Edwards menjadi Presiden klub pertama Milan dan Kilpin menjadi kapten tim pertama Milan. Musim 1901, Milan memenangkan gelar pertamanya sebagai jawara sepak bola Italia, setelah mengalahkan Genoa C.F.C. 3-0 di final Kejuaraan Sepakbola Italia. Pada 1908, sebagian pemain dari Italia dan para pemain dari Swiss yang tidak menyukai dominasi orang Italia dan Inggris dalam skuad inti Milan saat itu, memisahkan diri dari Milan dan membentuk Internazionale.

Masa GreNoLi
GreNoLi
Pada dekade 50-an, Milan ditakuti di bidang sepak bola dunia karena mempunyai trio GreNoLi , yang terdiri atas Gunnar Gren , Gunnar Nordahl , dan Nils Liedholm .Ketiganya merupakan pemain asal Swedia. Gren dan Nordahl beroperasi di sektor depan sebagai striker, sementara Liedholm mendukung serangan sebagai penyerang bayangan (playmaker). Tim di masa ini juga dihuni oleh sekelompok pemain-pemain berkualitas pada masanya, seperti Lorenzo Buffon, Cesare Maldini, dan Carlo Annovazzi. Kemenangan tersukses AC Milan oleh Juventus tercipta 5 Februari 1950, dengan skor 7-1, dan Gunnar Nordahl mencetak hat-trick.

Era Nereo Rocco
Milan kembali memenangi musim 1961/1962. Pelatihnya saat itu adalah Nereo Rocco, pelatih sepak bola yang inovatif, yang dikenal sebagai penemu taktik catenaccio (pertahanan gerendel/berlapis). Di dalam tim termasuk Gianni Rivera dan José Altafini yang keduanya masih muda. Musim berikutnya, dengan gol Altafini, Milan memenangkan Piala Eropa pertama mereka (kemudian dikenal sebagai Liga Champions UEFA) dengan mengalahkan Benfica 2-1. Ini juga merupakan pertama kalinya sebuah tim Italia memenangkan Piala Eropa.
Meskipun begitu, selama tahun 1960-an piala kemenangan Milan mulai menyusut , terutama karena perlawanan berat dari Inter yang dilatih Helenio Herrera. Scudetto berikutnya tiba hanya di 1967/1968, berkat gol Pierino Prati, topskor Seri A di musim itu, Piala Winners berhasil direbut ketika mengalahkan Hamburger SV, dan juga berkat dua gol dari Kurt Hamrin. Musim selanjutnya AC Milan memenangkan Piala Eropa kedua (4-1 untuk AFC Ajax), dan pada 1969 memenangkan Piala Interkontinental pertama, setelah mengalahkan Estudiantes de La Plata dari Argentina dalam dua leg dramatis (3-0, 1-2).
Scudetto kesepuluh dan Seri B
Di tahun 1970, Milan merebut tiga gelar Coppa Italia dan gelar Piala Winners kedua; namun, tujuan utama Milan adalah scudetto kesepuluh, yang berarti mendapatkan "bintang" untuk tim (di Italia,setiap tim yang meraih 10 gelar liga mendapat bintang yang disemat di bajunya). Di 1972 mereka meraih semifinal Piala UEFA, kalah dari pemenang sesungguhnya, Tottenham Hotspur. Musim 1972/1973 mereka hampir memenangkan scudetto kesepulh, namun gagal karena hasil kalah menyakitkan dari Hellas Verona F.C. di pertandingan terakhir musim. AC Milan menunggu sampai musim 1978/1979 untuk meraih scudetto kesepuluh mereka, yang dipimpin oleh Gianni Rivera, yang pensiun dari dunia sepak bola setelah membawa timnya meraih kemenangan tersebut.
Namun, hasil terburuk datang kepada "Rossoneri": setelah memenangkan musim 1979/1980, Milan didegradasi ke Seri B oleh F.I.G.C, bersama S.S. Lazio, karena terlibat skandal perjudian Totonero 1980. Di 1980/1981, Milan dengan mudah menjuarai Seri B, dan kembali ke Seri A, di mana penyakit tersebut terulang di musim 1981/1982, Milan terdegradasi kembali.

The Dream Team
Kedatangan Berlusconi
Setelah serentetan masalah menerpa Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh enterpreneur Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala itu. Dia datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk Milan, Arrigo Sacchi, serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, untuk mengembalikan tim pada kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya, seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.

Era Sacchi
Arrigo Sacchi
Sacchi memenangkan Seri A musim 1987-1988. Di 1988-1989, Milan memenangkan gelar Liga Champions ketiganya, mempecundangi Steaua Bucureşti 4-0 di final, dan gelar Piala Interkontinental kedua mengalahkan National de Medellin (1-0, gol tercipta di babak perpanjangan waktu). Tim mulai mengulangi kejayaan mereka di musim-musim berikutnya, mengalahkan S.L. Benfica, dan Olimpia Asunción di 1990. Skuad kemenangan Eropa mereka adalah:
Kiper : Giovanni Galli
Bek : Mauro Tassotti -- Alessandro Costacurta -- Franco Baresi -- Paolo Maldini
Gelandang : Angelo Colombo -- Frank Rijkaard -- Carlo Ancelotti -- Roberto Donadoni
Penyerang : Ruud Gullit -- Marco van Basten

Era Capello
Fabio Capello
Saat Sacchi meninggalkan Milan untuk melatih Italia, Fabio Capello dijadikan pelatih Milan selanjutnya, dan Milan meraih masa keemasannya sebagai Gli Invicibli (The Invicibles) dan Dream Team. Dengan 58 pertandingan tanpa satu pun kekalahan Invicibli membuat tim impian di semua sektor seperti Baresi, Costacurta, dan Maldini memimpin pertahanan terbaik, Marcel Desailly, Donadoni, dan Ancelotti di gelandang, dan Dejan Savićević, Zvonimir Boban, dan Daniele Massaro bermain di sektor depan. Pada saat dilatih Capello ini, Milan pernah singgah ke Indonesia dalam rangka tur musiman dan melawan klub lokal Persib Bandung. Pertandingan yang dimulai di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 4 Juni 1994 itu dimenangkan Milan dengan skor telak 8-0. Gol kemenangan Milan dicetak oleh Dejan Savićević ('17)('18), Gianluigi Lentini ('26), Paolo Baldieri ('27)('48)('58), Christian Antigori ('68), dan Stefano Desideri ('78).
Masa masa sulit (Tabarez ke Terim)

1996-1997
Setelah kepergian Fabio Capello pada tahun 1996, Milan merekrut Oscar Washington Tabarez tetapi perjuangan keras di bawah kendalinya kurang berhasil dan mereka selalu kalah dalam beberapa pertandingan awal. Dalam upaya untuk mendapatkan kembali kejayaan masa lalu, mereka memanggil kembali Arrigo Sacchi untuk menggantikan Tabarez. Milan mendapatkan tamparan keras kekalahan terburuk mereka di Seri A, dipermalukan oleh Juventus F.C. di rumah mereka sendiri San Siro dengan skor 1-4. Milan membeli sejumlah pemain baru seperti Ibrahim Ba, Christophe Dugarry dan Edgar Davids. Milan berjuang keras dan mengakhiri musim 1996-1997 di peringkat kesebelas di Seri A.

1997-1998
Sacchi digantikan dengan Capello di musim berikutnya. Capello yang menandatangani kontrak baru dengan Milan merekrut banyak pemain potensial seperti Kristen Ziege, Patrick Kluivert, Jesper Blomqvist, dan Leonardo; tetapi hasilnya sama buruk dengan musim sebelumnya. Musim 1997-1998 mereka berakhir di peringkat kesepuluh. Hasil ini tetap tidak bisa diterima para petinggi Milan, dan seperti Sacchi, Capello dipecat.

1998-1999
Dalam pencarian mereka untuk seorang manajer baru, Alberto Zaccheroni menarik perhatian Milan. Zaccheroni adalah manajer Udinese yang telah mengakhiri musim 1997-1998 pada peringkat yang tinggi di tempat ke-3. Milan mengontrak Zaccheroni bersama dengan dua orang pemain dari Udinese, Oliver Bierhoff dan Thomas Helveg. Milan juga menandatangani Roberto Ayala, Luigi Sala dan Andres Guglielminpietro dan dengan formasi kesukaan Zaccheroni 3-4-3, Zaccheroni membawa klub memenangkan scudetto ke-16 kembali ke Milan. Starting XI adalah: Christian Abbiati; Luigi Sala, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini; Thomas Helveg, Demetrio Albertini, Massimo Ambrosini, Andres Guglielminpietro; Zvonimir Boban, George Weah, Oliver Bierhoff.

1999-2000
Meskipun sukses di musim sebelumnya, Zaccheroni gagal untuk mentransformasikan Milan seperti The Dream Team dulu. Pada musim berikutnya, meskipun munculnya striker Ukraina Andriy Shevchenko, Milan mengecewakan fans mereka baik dalam Liga Champions UEFA 1999-2000 ataupun Seri A. Milan keluar dari Liga Champions lebih awal, hanya memenangkan satu dari enam pertandingan (tiga seri dan dua kalah) dan mengakhiri musim 1999-2000 di tempat ke-3. Milan tidaklah menjadi sebuah tantangan bagi dua pesaing scudetto kala itu, S.S. Lazio dan Juventus.

2000-2001
Pada musim berikutnya, Milan memenuhi syarat untuk Liga Champions UEFA 2000-2001 setelah mengalahkan Dinamo Zagreb agregat 9-1. Milan memulai Liga Champions dengan semangat tinggi, mengalahkan Beşiktaş JK dari Turki dan raksasa Spanyol FC Barcelona, yang pada waktu itu terdiri dari superstar internasional kelas dunia, Rivaldo dan Patrick Kluivert. Tapi performa Milan mulai menurun secara serius, seri melawan sejumlah tim (yang dipandang sebagai kecil/lemah secara teknis untuk Milan), terutama kalah 2-1 oleh Juventus di Seri A dan 1-0 untuk Leeds United. Dalam Liga Champions putaran kedua, Milan hanya menang sekali dan seri empat kali. Mereka gagal untuk mengalahkan Deportivo de La Coruña dari Spanyol di pertandingan terakhir dan Zaccheroni dipecat. Cesare Maldini, ayah dari kapten tim Paolo, diangkat dan hal segera menjadi lebih baik. Debut kepelatihan resmi Maldini di Milan dimulai dengan menang 6-0 atas A.S. Bari, yang masih memiliki senjata muda, Antonio Cassano. Itu juga di bawah kepemimpinan Maldini bahwa Milan mengalahkan saingan berat sekota Internazionale dengan skor luar biasa 6-0, skor yang tidak pernah diulang dan di mana Serginho membintangi pertandingan. Namun, setelah bentuk puncak ini, Milan mulai kehilangan lagi termasuk kekalahan 1-0 yang mengecewakan untuk Vicenza Calcio, dengan satu-satunya gol dalam pertandingan dicetak oleh seorang Luca Toni. Terlepas dari hasil ini, dewan direksi Milan bersikukuh bahwa Milan mencapai tempat keempat di liga di akhir musim, tapi Maldini gagal dan tim berakhir di tempat keenam.

2001-2002
Milan memulai musim 2000-2001 dengan lebih banyak penandatanganan kontrak pemain bintang termasuk Javi Moreno dan Cosmin Contra yang membawa Deportivo Alavés ke putaran final Piala UEFA. Mereka juga menandatangani Kakha Kaladze (dari Dynamo Kyiv), Rui Costa (dari AC Fiorentina), Filippo Inzaghi (dari Juventus), Martin Laursen (dari Hellas Verona), Jon Dahl Tomasson (dari Feyenoord), Ümit Davala (dari Galatasaray) dan Andrea Pirlo (dari Inter Milan). Fatih Terim diangkat sebagai manajer, menggantikan Cesare Maldini, dan cukup sukses. Namun, setelah lima bulan di klub, Milan tidak berada di lima besar liga dan Terim dipecat karena gagal memenuhi direksi harapan.
Era Ancelotti
Terim digantikan oleh Carlo Ancelotti, meskipun rumor bahwa Franco Baresi akan menjadi manajer baru. Terlepas dari masalah cedera pemain belakang Paolo Maldini, Ancelotti berhasil dan mengakhiri musim 2001-02 dalam peringkat empat, tempat terakhir untuk di Liga Champions. Starting XI pada saat itu adalah Christian Abbiati; Cosmin Contra, Alessandro Costacurta, Martin Laursen, Kakha Kaladze, Gennaro Gattuso, Demetrio Albertini, Serginho; Manuel Rui Costa; Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi. Ancelotti membawa Milan meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti di Manchester, Inggris. Milan terakhir kali meraih gelar prestisus dengan merebut juara Liga Italia pada musim kompetisi 2003/2004 sekaligus menempatkan penyerang Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia, maka rossoneri-pun semakin ditakuti.
Pasang surut 2006-2008
Milan saat menghadapi corner di suatu pertandingan musim 2005/2006
Pada musim kompetisi Liga Italia Seri A 2006/2007, Milan terkait dengan skandal calciopoli yang mengakibatkan klub tersebut harus memulai kompetisi dengan pengurangan 8 poin. Meskipun begitu, publik Italia tetap berbangga karena di tengah rusaknya citra sepak bola Italia akibat calciopoli, Milan berhasil menjuarai kompetisi sepak bola yang paling bergengsi di dunia, Liga Champions. Hasil itu didapat setelah Milan menaklukkan Liverpool 2-1 lewat dua gol Filippo Inzaghi. Gelar inipun menuntaskan dendam Milan yang kalah adu penalti dengan Liverpool dua tahun silam. Gelar pencetak gol terbanyakpun disabet pemain jenius Milan, Kaká dengan torehan 10 gol. Pada pertengahan musim, Milan mendatangkan mantan pemain terbaik dunia, Ronaldo dari Real Madrid untuk memperkuat armada penyerang mereka setelah penyerang muda Marco Borriello dihukum karena terbukti doping. Musim 2007/2008, Milan terpaksa bermain di kompetisi Piala UEFA setelah hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 dibawah Fiorentina dengan selisih 2 poin. Dalam pertandingan Serie A yang terakhir, Milan menang 4-1 atas Udinese, tapi di saat bersamaan, Fiorentina juga menang atas Torino dengan skor 1-0 yang akhirnya posisi kedua tim tak ada perubahan. Untuk memperbaiki performa di musim berikut (2008/2009), Milan membeli sejumlah pemain baru, di antaranya Mathieu Flamini dari Arsenal, serta Gianluca Zambrotta dan Ronaldinho yang keduanya berasal dari Barcelona. Pada transfer paruh musim 2008/2009, Milan mendatangkan David Beckham dengan status pinjaman dari klub sepak bola Amerika Serikat LA Galaxy.

Pasca-Ancelotti
Era Leonardo
Pada akhir musim 2008/2009,Milan menempati peringkat ke-3 klasemen liga Serie A, dua peringkat di bawah rival sekota, Internazionale yang meraih scudetto dan di bawah Juventus. Untuk memperbaiki hasil yang kurang memuaskan ini, Milan mendatangkan pelatih muda yang sekaligus mantan pemain Milan era 90-an, Leonardo untuk menggantikan pelatih Milan sebelumnya, Ancelotti yang "hijrah ke London", tepatnya klub Chelsea F.C.. Milan juga terpaksa melepas beberapa pemainnya, antara lain:

* Kaka, pindah ke Real Madrid .Nilai transfernya ± 67 juta Euro
* Paolo Maldini, bek legendaris Milan ini memutuskan untuk pensiun
* Yoann Gourcuff, memutuskan untuk tetap di Bordeaux.

Masalah terbesar yang mengganjal transfer para pemain tersebut adalah pihak Milan yang selalu berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang demi membeli seorang pemain. Pada bulan Juli dan Agustus 2009, Milan mendapatkan dua pemain baru, yaitu Oguchi Onyewu yang merupakan seorang mantan bek Standard Liège dengan status bebas transfer dan Klaas-Jan Huntelaar eks striker Real Madrid dengan nilai kontrak 14,7 juta Euro. Namun hasil yang di dapatkan Milan pada turnamen pra-musim banyak menuai kekecewaan, pemain anyar yang diturunkan oleh Milan pada saat tur pra-musim hanya Oguchi Onyewu karena Huntelaar baru bergabung bulan Agustus.
Musim 2009/2010 diawali Milan dengan hasil yang tidak memuaskan. Bermula ketika Milan meraih hasil imbang 2-2 melawan Los Angeles Galaxy, seterusnya, Milan terus menuai hasil negatif. Milan terperosok di ajang World Football Challange 2009. Di ajang Audi Cup, Milan juga kalah oleh Bayern Munich dengan skor 1-4. Bahkan, ketika menghadapi derby 30 Agustus 2009 melawan Internazionale di San Siro, Milan kalah memalukan dengan skor 0-4, sekaligus memecahkan rekor kemenangan terbesar Inter di San Siro.
Pertengahan Oktober 2009, penilaian berbagai pihak tentang kinerja Leonardo sebagai pelatih yang tadinya berada di titik terendah akibat serentetan performa buruk, mulai terdongkrak dengan berhasilnya Leonardo memimpin Milan mengalahkan AS Roma 2-1 di San Siro. Setelah kemenangan itu, Milan juga menuai hasil positif di Stadion Santiago Bernabéu dengan kemenangan dramatis atas Real Madrid 3-2. Dan setelah itu, Milan kembali menuai kemenangan atas Chievo Verona di Stadio Marc'Antonio Bentegodi, kandang Chievo, skor 2-1 untuk kemenangan AC Milan. Pada 1 November 2009, Milan mengalahkan Parma F.C. di San Siro 2-0 sekaligus mengantarkan Milan ke peringkat 4 klasemen sementara (Zona masuk Liga Champions terakhir). Pada 19 November 2009, kekalahan 0-2 Juventus F.C. dari Cagliari membuat Milan berada di posisi runner-up di bawah Internazionale; karena, beberapa jam setelah kekalahan Juventus, Milan memenangkan pertandingannya dengan Catania, 2-0.
Memasuki bagian akhir musim Serie A April 2010, Milan yang tengah berada di peringkat ketiga dan hanya selisih 4 poin dari peringkat pertama kelasemen AS Roma, dan hanya berjarak 1 poin dengan peringkat kedua Inter Milan. Namun pada akhirnya Milan harus takluk dua kali berturut-turut dari Sampdoria 2-1, dan dari Palermo dengan skor 3-1. Dengan kekalahan tersebut, impian Milan untuk meraih gelar musim ini pupus. Pada pertandingan di giornata terakhir Seri A 2009/2010 antara Milan melawan Juventus, Leonardo memimpin Milan mengalahkan Juventus 3-0 di San Siro, sekaligus memberi kontribusi terakhirnya bagi rossoneri, dan mengumumkan bahwa ia akan berhenti melatih Milan untuk musim depan. Sejak mundurnya Leonardo, banyak spekulasi yang berpendapat mengenai pelatih baru Milan, tetapi pada 25 Juni 2010, secara mengejutkan pihak Milan mengumumkan untuk memilih Massimiliano Allegri sebagai pelatih baru Milan.

Era Allegri
Musim 2010/2011, Milan dipimpin oleh Massimiliano Allegri, dengan berbagai pembaruan mulai dari sponsor (bwin.com digantikan Emirates), hingga lini pemain. Di akhir bursa transfer, secara mengejutkan Milan memboyong Zlatan Ibrahimovic dari F.C. Barcelona (dengan opsi pinjaman dan pembelian 24 juta Euro di akhir musim), dan Robinho dari Manchester City.

Merampas Kejayaan Lama | Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all